Postingan

Rahim Peradaban yang Terus Diuji

Gambar
Kampus Bukan Tempat untuk Ketakutan: Refleksi atas Kasus Rehan Mujafar di UIN Suska Riau Kasus yang terjadi di UIN Suska Riau benar-benar menyakitkan dan mengguncang hati saya sebagai mahasiswa. Peristiwa pembacokan yang dilakukan oleh Rehan Mujafar terhadap seorang mahasiswi di lingkungan kampus bukan hanya tindak kriminal biasa. Ini adalah alarm keras bagi kita semua bahwa ruang yang seharusnya aman justru bisa berubah menjadi ruang trauma. Yang membuat hati semakin perih adalah fakta bahwa tindakan tersebut didasari oleh obsesi dan rasa tidak terima karena cintanya ditolak. Sebuah penolakan sesuatu yang sangat manusiawi dan wajar dibalas dengan kekerasan. Ini bukan cinta. Ini adalah bentuk kontrol, ego yang tidak sehat, dan kegagalan dalam mengelola emosi. Dan yang lebih menyakitkan lagi, kejadian ini terjadi ketika korban sedang bersiap menjalani sidang skripsi. Di momen yang seharusnya menjadi tonggak perjuangan akademik, justru berubah menjadi pengalaman yang penuh luka dan traum...

Survive

Gambar
Aku lahir bukan di pangkuan yang paling hangat, tumbuh di tengah dinding yang lebih sering bergema marah daripada doa. Tak semua rumah berarti pulang, tak semua keluarga berarti tempat bersandar. Dan aku belajar terlalu cepat bahwa kadang, menjadi diri sendiri berarti harus menentang mereka yang seharusnya memeluk. Aku pernah menyembunyikan mimpi di balik lemari yang penuh suara larangan, pernah menangis diam-diam karena tak ada satu pun yang percaya aku bisa. Tapi aku tetap hidup. Bukan karena mereka mendukungku, melainkan karena aku tak punya pilihan selain tetap melangkah—meski ditolak di langkah pertama. Aku tahu… Mereka ingin aku menjadi seperti harapan mereka. Tapi bagaimana mungkin aku menjadi siapa pun, jika menjadi diriku sendiri saja sudah terasa salah? Dan jika hari ini aku terlihat baik-baik saja, itu bukan karena tak ada luka— tapi karena aku terbiasa berdarah tanpa satu pun yang peduli bertanya: “Kabarmu bagaimana?”

Hilang

Gambar
Hari ini aku merasa benar-benar kehilangan arah. Bukan karena sesuatu yang besar sedang terjadi, tapi justru karena segalanya terasa kosong. Aku bangun dengan perasaan hampa, dan sepanjang hari berjalan seolah aku hanya menjalankan rutinitas tanpa jiwa. Seperti tubuhku bergerak, tapi pikiranku terjebak di tempat lain—di ruang gelap yang aku sendiri pun nggak paham sepenuhnya. Satu hal yang sangat terasa hari ini adalah kesendirian. Bukan cuma sendiri secara fisik, tapi kesepian yang menyentuh hati paling dalam. Aku sadar… aku nggak punya siapa-siapa. Nggak ada keluarga yang bisa aku ajak bicara dari hati ke hati, nggak ada teman yang benar-benar paham, apalagi sahabat yang tahu isi pikiranku tanpa aku perlu banyak bicara. Pacar? Bahkan itu pun hanya bayangan yang nggak pernah ada dalam hidupku. Lucu ya, selama ini aku hidup di antara orang-orang. Aku pernah tertawa bareng, ngobrol, bercanda, bahkan sesekali bercerita. Tapi ternyata, semua itu nggak benar-benar membuatku merasa "te...

Reminder

Gambar
21 April 2025 – Hari Kartini Setiap tahun, tanggal ini selalu membuatku berpikir lebih dalam tentang jadi perempuan di desa. Tentang bagaimana sampai hari ini, masih banyak yang percaya kalau perempuan tak perlu sekolah tinggi. Katanya, “ujung-ujungnya juga ke dapur.” Aku tumbuh di tengah suara-suara itu—suara yang menyuruh perempuan cukup jadi istri, ibu, dan pengurus rumah. Seolah cita-cita kami hanya boleh sampai batas dinding rumah. Rasanya sesak, seperti dunia ini sempit sekali untuk mimpi-mimpi besar yang aku punya. Di tempatku, masih banyak yang percaya bahwa perempuan cukup sekolah asal bisa baca, tulis, dan berhitung. Tak perlu kuliah, katanya, karena pada akhirnya perempuan akan ke dapur juga. Akan menikah, mengurus anak, memasak, mencuci, dan selesai. Seolah perempuan dilahirkan hanya untuk melayani, bukan untuk bermimpi atau mengubah dunia. Padahal, menjadi perempuan bukan berarti tak boleh punya cita-cita. Bukan berarti harus memilih antara keluarga dan mimpi. Perempuan bi...

Tuhan, izinkan aku berhasil diatas keraguanku

Gambar
Malam ini, aku menangis lagi. Entah sudah berapa kali aku begini—duduk diam, memandangi langit-langit kamar, dan air mata jatuh tanpa suara. Rasanya lelah. Bukan cuma fisik, tapi hati ini juga terasa penuh, sesak, seperti menahan beban yang tak kelihatan. Aku capek dengan semua orang yang datang dan pergi seolah aku ini tempat persinggahan. Mereka datang saat butuh, lalu pergi saat semuanya membaik. Aku bukan rumah bagi siapa-siapa, hanya halte sementara. Dan jujur, aku lelah menjadi tempat singgah yang dilupakan begitu saja. Masalah juga nggak pernah berhenti. Seperti hujan deras yang nggak kasih jeda untuk bernapas. Satu selesai, datang lagi yang lain. Aku pengen menyerah, tapi nggak tahu harus lari ke mana. Aku ngerasa nggak beruntung dalam hal apapun. Dalam pertemanan, aku sering merasa sendirian meskipun dikelilingi banyak orang. Dalam percintaan, hatiku sering disakiti, atau mungkin aku yang terlalu berharap. Keluarga juga nggak selalu bisa jadi tempat pulang yang nyaman. Aku tum...

Girl's

Gambar
Kenapa perempuan bercerita untuk keluarkan emosinya?? pernah nggak sih ngerasa perempuan sering banget cerita kalau lagi ada masalah. jawabannya ada di otak perempuan, ternyata  perempuan memiliki konflik yang lebih kuat antara area emosi dan area sama sekali, makanya yang meluapkan emosi lewat cerita itu jadi kemasan obat buat perempuan untuk merasa lebih muda sebaliknya laki-laki biasanya memproses emosi di area otak dan hasil foto pada kondisi tersebut mereka lebih sering memilih untuk diam atau menyelesaikan masalah sendiri Itulah kenapa badan perempuan merasa cukup hanya didengar dan tak perlu diberi solusi mendengar dengan hati adalah bentuk cinta yang sederhana Perempuan sering bercerita ketika menghadapi masalah karena bercerita adalah salah satu cara mereka mengekspresikan perasaan, mencari dukungan emosional, dan memproses situasi. Yok simak alasan berikut : 1.Kebutuhan untuk Dipedulikan Perempuan cenderung merasa lega ketika mereka tahu orang lain memahami apa yang merek...

People Come and Go

Gambar
Orang datang dan pergi, dan itu adalah salah satu dari sedikit hal yang konstan dalam hidup. Beberapa orang datang ke dalam hidup kita seperti angin sepoi-sepoi, membawa kegembiraan, pelajaran, dan kenangan yang membentuk siapa kita. Yang lain pergi seperti badai yang berlalu, meninggalkan bekas luka atau kebijaksanaan. Namun, tidak peduli bagaimana mereka datang atau mengapa mereka pergi, setiap orang memiliki tujuan dalam perjalanan kita. Kehadiran mereka, baik yang cepat berlalu maupun yang bertahan lama, mengajarkan kita tentang cinta, kehilangan, kesabaran, dan pertumbuhan. Ini bukan tentang mempertahankan setiap orang yang datang ke dalam hidup kita, tetapi tentang belajar menghargai momen-momen yang mereka bagikan dengan kita dan melepaskannya saat bab mereka dalam cerita kita berakhir. Pada akhirnya, hidup bukanlah tentang siapa yang bertahan paling lama, tetapi tentang seberapa dalam kita terhubung dengan mereka yang telah melintasi jalan kita. And then, Masih menjadi misteri,...